Setelah membahas soal cinta kepada Alloh sebagai cinta yang pertama dan utama, dilanjutkan cinta kepada Rosululloh sebagai Insan mulia serta cinta kepada kedua orang tua, maka di akhir tema bulan ini saya akan mengupas sedikit bagaimana menyikapi cinta terhadap makhluk-makhluk Alloh lainnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa Alloh shollallohu 'alaihi wassalam tidak menciptakan segala sesuatu itu dengan sia-sia. Apapun yang ada di dunia ini pasti ada sebab, kegunaan dan hikmahnya jika kita mau untuk menggali hakekat di dalamnya.
Alloh hamparkan bumi ini dan mencipta segala sesuatu di dalamnya bukan semata-mata untuk manusia hidup dan berkembang biak di atasnya serta menggunakan segala khazanah kekayaan-Nya. Namun, semua itu diciptakan dengan satu tujuan, agar manusia itu mengenal dan kembali kepada-Nya.
Namun banyak manusia yang hanya melihat alam beserta isinya tanpa mau men-tafakuri dan men-tadabburi lebih jauh. Mereka tidak pernah bertanya dan mencari tahu, siapakah yang menciptakan segala keindahan tersebut?
Penglihatan mereka seolah-olah terlindung dan terhijab. Sama seperti mereka melihat lukisan yang cantik. Mereka terpegun dan memuji kecantikan lukisan itu dan mau memilikinya. Tidak terbayang di pikiran mereka siapa pelukisnya. Sama juga seperti orang yang memakan hidangan yang sedap dan lezat. Dia mau memakannya sampai habis. Tetapi tidak terlintas di pikirannya siapa gerangan yang memasaknya.
Hanya orang-orang yang berakal dan berhati nurani yang dapat mengatakan bahwa wanita, harta, anak, hewan, tetumbuhan, bebatuan, langit, laut, dan seluruh isi jagad raya ini diciptakan tak lain hanya untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta.
Makhluk dicipta untuk dicintai menurut kadar cinta suci, bukan cinta yang hanya menurutkan nafsu belaka. Maka jika mengaku mencintai seorang wanita ataupun pria, maka diantara keduanya akan saling mengingatkan kepada kebajikan dan kebenaran, bukan kepada kemungkaran. Begitu juga harta dan anak-anak hanyalah merupakan titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh yang Maha Memiliki.
Manusia sesungguhnya diberi penglihatan dengan 3 cara. Pertama, dengan mata kepala. Kedua, dengan mata akal dan ketiga, dengan mata hati. Namun jarang sekali orang yang menggunakan ketiga nikmat ini secara sempurna.
Padahal, jika seseorang melihat hutan belantara dengan mata kepala, maka yang dia lihat hanyalah hutan yang tebal dan menghijau. Sementara jika dilihat dengan mata akal, maka akan nampak balok dan kayu-kayuan yang dapat dijadikan bahan bangunan. Tapi jika dia melihat dengan mata hati, dia akan melihat keagungan dan kehebatan Allah dan hikmah yang terkandung di dalam ciptaan hutan tersebut. Terasa di hatinya betapa hebatnya Allah.
Wallohu'alam bish showab.