Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa tahap kedua dalam manajemen cinta suci itu adalah mencintai Rosululloh, setelah mencintai Alloh. Dalam kasus cinta seorang Rabi'ah Al Adawiyah yang tidak mencintai manusia biasa lainnya setelah Alloh, sesungguhnya terdapat hikmah yang begitu besar.
Dikatakan bahwa Rabi'ah tidak pernah mencintai manusia biasa bukan berarti Ia juga tidak mencintai Rosululloh sebagai syarat seorang muslim. Namun, sesungguhnya yang dimaksud adalah bahwa di dalam kalimat tersebut terkandung makna bahwa Rosululloh bukanlah manusia biasa, karena Rosululloh adalah Tajalliyat dari Alloh itu sendiri. Bahkan ada sebuah riwayat yang menceritakan Rosululloh bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat Tuhan, lihatlah aku."
Namun, hal ini bukan berarti bahwa Rosululloh itu adalah Tuhan itu sendiri, sebagaimana sebagian golongan manusia yang menyembah manusia lainnya dengan mengatakan bahwa dia adalah penjelmaan Tuhan atau anak Tuhan, naudzubillah min dzalik! Rosululloh tetaplah seorang manusia yang memiliki sifat naluriah sebagaimana manusia biasa lainnya. Beliau memiliki emosi, akal, nafsu, perasaan, dan sebagainya..
Hanya saja yang menjadikannya luar biasa adalah bahwa Alloh, Dzat yang menguasai seluruh nafas kehidupan di dunia dan akhirat ini, telah menampakkan diri kepada Rosululloh. Bahkan, Malaikat Jibril yang notabene sebagai pembantu terdekat Alloh sendiri pun belum pernah melihat Alloh! Bukankah ini sesuatu yang luar biasa?!
Dalam Shahih Bukhari-Muslim, sebuah hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik menyatakan bahwa Rosululloh bersabda, "Kamu belum beriman sebelum Alloh dan Rosul-Nya lebih kamu cintai daripada selain keduanya."
At Turmudzi pun meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda, "Cintailah Alloh karena nikmat yang dianugerahkan-Nya kepadamu. Cintailah aku karena kecintaanmu kepada Alloh. Dan cintailah keluargaku karena kecintaanmu kepadaku."
Muhammad shollallohu 'alaihi wassalam sebagai pengejawantahan Alloh juga dapat diartikan karena akhlaq Rosululloh adalah Al Qur'an. Sebagaimana riwayat yang diceritakan oleh Ummul Mukminun Aisyah radhiyallohu 'anha ketika ditanya bagaimanakah akhlaq Rosululloh? Lantas dijawabnya, "Akhlaq Rosululloh adalah Al Qur'an."
Al Qur'an adalah kalam Ilahi, firman yang ditulis langsung oleh Alloh. Maka maklum jika dikatakan bahwa Rosululloh adalah pengejewantahan Alloh itu sendiri. Karena seluruh nilai Al Qur'an ada di dalam diri Rosululloh.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh."
(QS. Al Ahzab, 033 : 21)