Sekarang kamu udah tau kan sejarah perayaan Valentine itu? Yup, ternyata kalo kita mau memperhatikan dengan seksama, ternyata dari sejarahnya Valentine itu ga ada hubungannya sama sekali dengan cinta sejati do'i. Bahkan, bagi sebagian orang juga diinterpretasikan sebagai cinta yang hanya didasarkan atas nafsu seorang pendeta.
Tulisan kemarin juga sudah dibahas tentang segala pernak-pernik yang terkait dengan Valentine. Lagi-lagi kalo kita masih tetap acuh akan hal ini, ati-ati... kita bisa menjadi murtad tanpa sadar lho! Nah, sekarang yuk kita coba simak sedikit bagaimana pandangan Islam terhadap Valentine ini.
1. Niat
"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut."
(HR. At Tirmidzi)
Hal ini berarti, bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali pendeta St. Valentino, maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Hal ini tentu dilihat dari perjuangannya yang mengatasnamakan "cinta", tentu akan mendapat respect para remaja yang notabene sedang kasmaran.
Sedangkan jika tidak bermaksud demikian, maka ia telah melakukan suatu kemungkaran besar. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
"Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut HARAM! Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, 'Selamat Hari Raya'."
"Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak ia telah memberi selamat pada mereka yang menyembah Salib. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Alloh subhanahu wa ta'ala , dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamr atau membunuh."
2. Korban Trend
Sebenarnya saya juga sering merasa aneh dan lucu melihat mereka yang menganggap dirinya gaul, selalu up to date tiap ada trend baru, tapi ketika ditanya alasan mereka melakukan itu, cuma bisa menjawab "Ngikut tren aja..." Nah lho?! Biasanya orang-orang yang berkata seperti itu ga punya batu sandara yang jelas atas perbuatan mereka.
Islam memang tidak menafikan adanya fitrah manusia yang cenderung untuk ikut-ikutan. Tapi, hal itu akan menjadi hina bila kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup atas apa yang kita ikuti. Apalagi jika orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikirannya. Bahkan, jika menyangkut perkara aqidah, syari'ah dan ibadah, sudah tidak bisa dikompromikan lagi karena hal tersebut termasuk dalam kategori Bid'ah dholallah.
Pepatah "Bagai kerbau di cocok hidung", tentu sudah tak asing lagi. Tapi, sadarkah kamu ketika mengucapkan kalimat itu, kamu justru sedang mengejek dirimu sendiri?! Ya, karena kamulah kerbau itu! Nah, inilah yang dinamakan taqlid. Hanya mengikuti apa kata orang tanpa mengerti baik-buruknya perbuatan itu. Contoh sederhana, sekarang sedang nge-trend model baju 'tangtop', nanti jika berubah menjadi trend 'tak berbaju' alias naked, apa kamu tetap mengikuti??
3. Hilangnya Jatidiri Muslim
Diantara dampak buruk menyerupai mereka adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah As Sunnah. Karena, tiada satu pun bid'ah yang dihidupkan kecuali saat itu ada suatu sunnah yang ditinggalkan. Hal lainnya, dengan mengikuti mereka berarti telah memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam tiap rakaat sholatnya membaca,
"Tunjukkilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat atas mereka. Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
(QS. Al Fathihah, 001 : 006-007)
Jadi, bagaimana mungkin sebagai seseorang yang mengaku muslim ia bisa memohon kepada Alloh agar ditunjukkan jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan dari jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai-Nya, namun justru ia sendiri malah menempuh jalan sesat itu dengan gembira??
So, masih berani ngaku-ngaku gaul? Cerdas dulu donk...!!! 