"Dek, buku abang yang warna pink itu kamu kemanain?" teriak Ardi kepada Mawar adiknya.
"Ga tau, dibawa kucing kali!"
"Kamu tuh! Abangnya lagi kesusahan, bukannya dibantuin malah ngeledek trus!" sewot Ardi yang membuat kamarnya juga ikut-ikutan semakin sewot.
Sejak pulang kuliah tadi, Ardi langsung membongkar seluruh isi kamarnya untuk mencari sebuah buku yang dianggapnya "keramat". Buku itu ia dapatkan beberapa hari lalu di sebuah pasar loak dekat perempatan Kantor Pos Besar Jogja.
Tanpa disadari, Mawar sang adik, sudah berada tepat dibelakangnya dan menyodorkan sebuah buku tebal. "Nih..!" katanya singkat. Namun, setelah diperhatikan sesaat, kontan bibirnya mengeriting. "Apaan nih?! Yang abang cari tuh buku 'Tips Jitu & Kiat Sukses Menggaet Pasangan di Hari Valentine', bukan ensiklopedi beginian!"
"Udah baca dulu!" tanpa basa-basi, Mawar langsung meninggalkan abangnya yang masih melongo. Untung kamarnya ber-AC, jadi ga ada lalat disitu. Kalo ga, barangkali mulutnya udah jadi sarang lalat tuh! 
Ardi memang sudah mulai terbiasa dengan sikap adiknya yang mulai aneh semenjak ikut acara keislaman di sekolahnya beberapa pekan lalu. Penampilannya pun berubah, rambut hitam yang dulu dibanggakannya kini mulai tertutup oleh selembar kain. Hanya saja, yang masih sering membuatnya kesal, sejak perubahannya itu ia tak lagi merasa nyaman lantaran sang adik yang semakin bawel untuk mengingatkannya sholat.
Awalnya ia ragu membuka buku yang diberikan adiknya itu, tapi tak berapa lama ia mulai tenggelam lantaran asyik membaca sebagaimana sudah menjadi hobi-nya.
The World Book Encyclopedia cetakan tahun 1998. Begitu judul yang ia tangkap. Tanpa sengaja ia menemukan secarik kertas yang terselip diantara lembaran ensiklopedi itu. Oh, nampaknya itu tulisan tangan Mawar.
"Didalam buku ini, terdapat banyak versi mengenai Valentine's Day", sebuah kata pengantar yang rupanya cukup menarik perhatian Ardi. Rupanya itu resume yang dibuat Mawar untuk tugas sekolahnya.
"Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers."
"Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love), Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan."
"Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur."
"Hm... asyik juga nih!" Ardi menanggapi tulisan adiknya.
"Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity)."
"Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari."
Singkat memang, tapi dari sini Ardi bisa sedikit mengetahui sejarah Valentine's Day. Setidaknya ia baru tahu bahwa Valentine itu bukan sekedar budaya barat, namun juga budaya orang-orang Kristen yang diadopsi dari upacara bangsa Romawi Kuno.