Ini hari ketiga bagi saya untuk mengurusi segala tetek bengek di dalam dapur. Ya, sejak senin (17/07/2006) lalu, saya lah yang mempersiapkan semua kebutuhan perut.
Semua ini berawal gara-gara si Nyonya mau jadi wanita karir, gitu candanya. 
Bagi saya sih ga ada masalah. Toh urusan masak-memasak ini rasanya enjoy-enjoy aja kalau dilakoni. Sedari kecil bahkan saya memang sering 'bikin rusuh' sewaktu ibu dan kakak perempuan saya sedang sibuk di dapur. Tapi bedanya, kalau dulu ada yang menuntun, sekarang semua saya yang urus. Dari titik nol, mencuci beras atau sayuran sampai penghidangan.
Gengsi? Ups, no way! Ga ada urusan gengsi untuk yang satu ini. Apa bisa kenyang makan gengsi?
Bagi sebagian [atau kebanyakan?] kaum Adam, pekerjaan ini memang dipandang remeh, melulu harus urusan wanita, ga macho kalo cowok ada di dapur dan pegang-pegang panci, gitu alasannya.
Emang ada urusan apa ke'macho'an dengan panci?? 
Padahal, beberapa waktu lalu di salah satu stasiun TV swasta ada seorang presenter yang mengatakan bahwa ia justru memandang ke'seksi'an seorang laki-laki dari kemampuannya menggendong bayi. Apalagi bila dia sampai bisa mengerjakan pekerjaan yang selama ini kerap di'prototipe'-kan dengan perempuan. Entah itu menyapu, mengepel, mencuci ataupun memasak. [Siapa yang sepakat? Ayo ibu-ibu, mba-mba.. tunjuk jari..?
]
Bahkan sering saya dengar, tidak sedikit teman-teman wanita saya yang sampai mensyaratkan calon suaminya untuk bisa memasak terlebih dahulu sebelum melakukan khitbah. So, kasihanilah dirimu sendiri wahai kaum pria bila ditolak oleh wanita idamanmu hanya gara-gara ga bisa masak! 
Karena belum ada Rice Cooker seperti di rumah, saya sengaja pakai cara yang disebut "nge-tim". Selain praktis lantaran tidak perlu 2 kali pindah panci sebagaimana cara menanak nasi biasa, beras yang dimasak ¼ rantang juga cukup lah untuk kami berdua saja sekali makan. 
Saya tidak tahu apa cara "nge-tim" ini lazim digunakan oleh ibu-ibu rumah tangga lainnya atau hanya variasi cara memasak ibu saya saja. Maklum, ibu saya memang pandai sekali untuk urusan yang satu ini dan cara "nge-tim" ini biasa dipakai ibu saya bila di rumah sedang tidak banyak yang ngumpul.
Kalau cara menanak nasi pada umumnya 'kan pertama kita memasak beras di dalam panci, setelah air di dalam panci habis, kita masukkan nasi ½ matang tersebut ke dandang, gitu tho? Nah, kalau nge-tim ini kita cukup butuh 1 panci dan 1 rantang. Kenapa pakai rantang? Karena ia tahan panas, jadi ga perlu khawatir pecah seperti piring/mangkuk yang terbuat dari gelas.
Caranya, masukkan beras ke dalam rantang, lalu cuci beras sampai bersih. Tapi ingat, berasnya maksimal hanya boleh sampai ½ rantang lho.. sebab bila lebih dari itu bakalan luber nasinya. Lalu masukkan rantang ke dalam panci. Tentu ukuran panci harus disesuaikan dengan besar rantang. Pilih panci yang masih punya ruang lebih bila rantang sudah dimasukkan ke dalamnya, untuk mempermudah keluar-masuknya rantang serta mengisi air ke dalam panci. Lalu isi panci dengan air hingga ½ dari tinggi rantang. Usahakan jangan sampai rantang mengambang untuk menghindari tumpahnya air dan beras/masuknya air dari dalam panci ke rantang.
Tunggu kira-kira selama 40 menit, atau hingga air yang ada di dalam rantang sudah kering. Saya sarankan tiap 15-20 menit anda tengok ke dalam panci untuk memastikan sudah matangnya nasi/belum dan pada waktu-waktu tersebut biasanya juga air yang ada di dalam panci akan mulai habis, segera isi kembali hingga ½ dari tinggi rantang sebelum terlanjur kering. Ingat, yang ditambahkan air yang ada di panci, bukan rantang 
Oya, takaran air di dalam rantang cukup ½ ruas jari telunjuk dari atas permukaan beras saja ya.. tidak perlu sampai 1½ sebagaimana pelajaran Tata Boga yang pernah saya terima di bangku SMP. Coz, dua hari terakhir ini nasi yang saya buat dengan saran dari guru Tata Boga itu malah menjadikannya setengah bubur 
Silahkan bagi yang ingin mencoba. Cara ini tentu sangat cocok untuk mereka yang tinggal sendiri, jauh dari rumah, seperti anak-anak kost. Tidak perlu banyak peralatan dapur, waktu memasaknya juga relatif singkat. Apalagi bisa ngirit pengeluaran lho.. Soal rasa? Ga ada bedanya tuh. Coz, menurut saya cara ini juga sangat mengandalkan kekuatan dari uap air untuk mematangkan beras menjadi nasi.
Cerita tentang lauknya nanti saja ya kalau pengalaman saya sudah agak banyak. Soale, sekarang saya baru bisa bikin Sarden Tuna sama Tumis Kikil aja nih.. Itu pun masih sering keasinan 
Mari makan... eh, mari masak... 