Tepat 6 hari setelah terjadinya gempa (27/05/2006) atau lima hari sejak saya berada di barak-barak pengungsian, mendapat satu berita yang sungguh luar biasa.
Bagaimana tidak, satu lagi kebijakan Rektorat UGM yang sungguh menyayat hati para mahasiswanya, terutama bagi mereka yang telah dengan ikhlas menyabung nyawa demi membantu para korban gempa yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Hari kamis lalu (01/06/2006) saya menyempatkan diri ke kampus untuk mencari informasi seputar perkembangan jadwal akademik. Tak mendapat info yang diinginkan, saya pun coba mengunjungi kos seorang kawan yang selama ini jadi sumber berita bila ada perkembangan apa-apa di kampus. Maklum, saya yang lebih sibuk di luar kampus jelas butuh seorang informan agar tak ketinggalan secuil pun berita penting.
Tak disangka, pertemuan kali itu malah menumbuhkan kepedihan di dalam hati ini. Pasalnya, sang kawan menceritakan bahwa sebenarnya 2-3 hari sebelumnya telah dibuka pendaftaran KKN Luar Biasa. Luar biasa karena KKN kali ini tidak membutuhkan segala macam prasyarat sebagaimana KKN pada umumnya, seperti SKS minimum yang telah ditempuh hingga batas angkatan yang diperbolehkan untuk mengikuti KKN.
Setiap mahasiswa dari berbagai angkatan diperbolehkan untuk mengikuti KKN ini. Sehingga, jadwal KKN yang seharusnya diikuti oleh angkatan <2002-2003 saja dapat juga diikuti oleh angkatan 2004 maupun 2005. 'Istimewa'nya lagi lama waktu KKN Luar Biasa ini hanya menempuh waktu tak kurang dari 6 pekan, beda sekali dengan KKN reguler yang biasanya berkisar 2-3 bulan. Belum lagi bila dosen pembimbing menentukan bahwa kondisi lapangan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan proses KKN, maka para peserta KKN dapat ditarik sewaktu-waktu dengan alasan keamanan.
Walau begitu, tetap saja proses kegiatan KKN telah dianggap selesai secara keseluruhan. Sehingga setiap peserta dianggap telah mengikuti kegiatan KKN sebagai syarat kelulusan dan tidak perlu mengikuti kegiatan KKN berikutnya, lebih-lebih yang mestinya ditempuh sesuai jadwal angkatannya masing-masing.
Pahitnya, proses pendaftaran kegiatan KKN Luar Biasa ini terbilang sangat singkat. Hanya tiga hari! Mulai Senin (29/05/06) hingga Rabu (31/05/06). Suatu hal yang jelas sangat terburu-buru.
Alasan rektorat mengadakan KKN Luar Biasa kali ini katanya sebagai wujud pelayanan UGM kepada masyarakat yang terkena musibah bencana gempa.
Namun, ibarat ular berbisa nan bermuka ganda, Rektorat UGM justru menunjukkan dengan jelas kebijakan yang timpang dari rasa keadilan. Mari kita main logika disini.
- Pembukaan pendaftaran peserta KKN yang dua hari setelah kejadian, membuat banyak mahasiswa tak tahu info tersebut. Pasalnya, banyak mahasiswa yang telah terjun ke lapangan sejak hari pertama terjadinya gempa. Akan menjadi hal yang mustahil bagi mereka untuk tahu info tersebut bila sejak terjadinya gempa mereka terus menerus berada di tengah-tengah para pengungsi yang notabene jauh dari kampus.
- Bila ada anggapan bahwa mahasiswa yang terjun ke lapangan dapat mencari berita melalui SMS/telpon kepada kawan-kawannya di kampus, bagaimana mungkin?! Nyatanya banyak daerah yang benar-benar terisolir. Bukan hanya persoalan listrik yang baru menyala beberapa hari kemudian, tapi sarana komunikasi juga menjadi suatu hal yang sangat sulit dicapai disana.
- Selain itu, terjadinya musibah tersebut juga bertepatan dengan minggu tenang di kampus. Sehingga para mahasiswa jelas tak terlalu memikirkan kegiatan akademik di kampus. Lebih-lebih punya pikiran akan ada program yang 'Luar Biasa'.
- Rektorat berdalih, seharusnya mahasiswa bisa ikut posko yang didirikan oleh pihak Universitas, bukan pergi secara individual maupun ikut lembaga lain. Ini jelas suatu hal yang sangat naif sekali! Apa menjadi relawan harus terpasung pada satu institusi belaka?! Menunggu banyak jatuh korban baru terjun ramai-ramai ke lapangan?! Lagipula, menurut informasi yang saya terima, posko itu baru didirikan 5 jam setelah terjadinya gempa dan berada di daerah Jetis pula! 5 jam adalah waktu yang cukup lama pak Rektor, cukup untuk menunggu ribuan nyawa anak manusia meregang bila tak segera ditolong! Heran juga saya, kenapa posko itu --bila benar memang ada-- didirikan di Jetis yang jaraknya sangat jauh dari kampus? Siapa yang bisa tahu bila UGM sudah mendirikan posko disana? Akan lebih masuk akal bila posko itu didirikan di kampus.
- Kalaupun pihak Universitas mempunyai niatan yang serius untuk membuka posko secara kolektif, seharusnya juga dikoordinasikan dengan masing-masing fakultas. Saya berani menantang pihak Rektorat bahwa 5 jam ataupun 36 jam setelah terjadinya gempa, informasi ini TIDAK SAMPAI ke fakultas-fakultas, utamanya Fakultas Hukum. Sebab, sejak jam 10 pagi hari Sabtu kelabu itu, hingga keesokan paginya, saya selalu standby di Fakultas Hukum. TIDAK ADA secuil pun informasi yang sampai ke sana.
Bila melihat poin-poin di atas, saya mencurigai kegiatan KKN Luar Biasa ini sarat dengan muatan mencari popularitas belaka. Menurut informasi yang saya terima dari sang kawan tersebut juga menyebutkan bahwa kegiatan KKN ini spontan diadakan setelah pihak Rektorat mendapat 'tekanan' dari pemerintah yang mengatakan bahwa UGM bekerja lamban dalam hal penanganan musibah gempa kali ini. Lebih-lebih bila melihat persiapan kegiatan ini yang serba instan.
Kalau pihak Rektorat UGM benar-benar tulus ingin menjadikan kegiatan KKN Luar Biasa ini sebagai perwujudan rasa kemanusiaan sejati, maka sudah sepatutnya memberikan kesempatan bagi anak-anak mereka yang sudah jauh-jauh hari berada di lapangan untuk turut bergabung dalam kegiatan ini. Bukan malah menutup pintu rapat-rapat!
Rasa ketidakadilan itu pun terlihat jelas dari segi peserta KKN itu sendiri. Tidak menutup kemungkinan mereka yang ikut kegiatan ini hanya bermodal keberuntungan karena "menyempatkan diri" datang ke kampus dan tiba-tiba secara tidak sengaja melihat informasi tersebut. Mereka yang tadinya -mungkin- hanya ingin mencari selamat sendiri atau malah tidur-tiduran saja di kos, tiba-tiba mendapat anugerah dengan masuknya mereka menjadi peserta KKN ini.
Tapi bagaimana dengan para mahasiswa yang sejak pertama sudah berada di tengah-tengah korban untuk membantu mengevakuasi? Tak tanggung-tanggung, nyawa taruhannya! Tapi apa balasan dari pihak Rektorat UGM? Nothing! Inikah yang disebut rasa kemanusiaan?
Saya pun sebenarnya tidak dapat menyalahkan rekan-rekan yang segera pergi meninggalkan Yogya. Sebab, sebagai manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan, tentu banyak diantara mereka yang tak ingin bermain-main dengan nyawanya yang hanya satu itu.
Hanya satu tuntutan saya dan kawan-kawan relawan khususnya disini, agar pihak Rektorat UGM dapat memberikan rasa keadilan kepada kami semua, sebagai mahasiswa UGM dan relawan kemanusiaan khususnya, dengan membuka sekali lagi pintu pendaftaran KKN bagi kawan-kawan yang sudah menunjukkan komitmennya sebagai pejuang kemanusiaan sejati.
Setidaknya, agar berita-berita yang muncul di media seperti Detik.com tidak sekedar menjadi wasilah kemunafikan bagi kampus tercinta.