Pagi itu saya baru pulang dari kampus seusai menunaikan beberapa pekerjaan yang memang harus segera diselesaikan. Sekitar pukul 01.20 WIB kala itu.
Tiba di rumah tak bisa serta merta memejamkan mata. Televisi jadi sasaran untuk membuat mata ini segera kantuk. Tapi apa daya, hingga beberapa film di stasiun tv yang berbeda usai pun, mata saya tetap tak mau diajak kompromi. Akhirnya sekitar pukul 04.30an, mata merah ini mulai menutup.
Ketika tiba-tiba...
"Keluar...!!! keluar...!!! Gempa!!! Keluar semua!!!" disertai gemuruh hebat, dinding bergetar, runtuhan abu jatuh dari atap, jam dinding dan buku-buku pun tak ada lagi yang bisa bertahan! Kejadian itu berlangsung sekitar 10-30 detik. Dan tentu saja, diikuti dengan padamnya listrik saat itu juga.
Ahh... ya, saya tak dapat mengingat dengan jelas lama waktunya. Saat mata masih memerah, pusing kepala tak tertahankan, saya cuma bisa berteriak "Aaarrrrggghhh....!!!!" antara sadar dan tidak sadar. Sambil bertahan ke tembok yang ada di sisi kasur tidur, tanpa tenaga. Ya.. karena beban berat yang masih menumpuk di kepala ini.
Masih dengan tubuh terkulai, lemas.. coba meraih celana panjang yang tergantung di balik pintu, sambil berusaha mencari-cari sudut berpegangan. Susahnya minta ampun saat mau membuka mata ini untuk melihat waktu melalui layar handphone. 05.53. Ya... sekitar itulah kira-kira.
Setelah sedikit sadar, saya coba menghubungi keluarga di Cikampek. Tapi selalu bunyi tulalit. Barangkali sistem jaringan komunikasi ikut terganggu karena gempa ini.
Ketika saya tiba di luar, semua warga sudah berkumpul disana. Menanti dengan was-was. Bapak-bapak sibuk mengatur lalu lintas kendaraan yang menarik gas dengan cepat, menghindari bahaya Tsunami yang sempat diisukan oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Para ibu membawa bekal pakaian dan barang-barang lainnya sambil berusaha mendiamkan anak-anak yang menangis dengan sekeras-kerasnya.
Panik! Tangis! Teriakan! Histeria! Semua campur menjadi satu. Seolah dunia kiamat detik itu juga!
Ya Alloh... baru kali ini saya melihat keadaan sekitar saya yang kacau balau!
Selesai bergegas mandi, saya coba melihat keadaan di luar kembali. Tepat dugaan saya! Jalanan seluruhnya telah padat dengan manusia dan kendaraan! Tak lagi ada ruang untuk memacu kecepatan, semua harus sabar berjalan terseok-seok.
Beberapa tembok di sekitar tempat tinggal saya pun runtuh, tak lagi mampu menunjukkan kekuatannya.
Di perempatan selokan Mataram, para polisi sibuk mengatur lalu lintas yang sudah tidak teratur, sambil berteriak berulang-ulang "Tidak ada Tsunami! Semua isu! Semua bohong! Tenang! Jangan panik! Silahkan kembali ke rumah masing-masing!"
Masyarakat tak menghiraukan seruan itu, tak mau ambil resiko, mereka tetap ngotot ingin segera mencapai Kaliurang, sejauh mungkin pergi ke arah utara. Padahal, tanpa mereka sadari sebenarnya di wilayah utara pun bahaya tengah menanti. Apalagi kalau bukan letusan Merapi yang akhir-akhir ini beritanya membuat Mbah Maridjan melejit menjadi seorang selebritis dalam semalam.
Mobil patroli yang masuk ke gang-gang sempit pun tak henti-hentinya menenangkan warga untuk tidak terprovokasi dan dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dengan menggunakan pengeras suara.
Tak ingin berlama-lama berada di kerumunan orang-orang di jalanan, saya coba melihat kondisi di RS Sardjito. Belum sampai 100 di depan pintu masuknya, jalanan menuju kesana lagi-lagi macet total! Pasien berhamburan keluar. Ada yang sambil memegangi botol infus, meringis kesakitan akibat luka di kepala dan kakinya, bahkan ada satu truk yang mengangkut banyak orang di dalamnya. Entah ingin dievakuasi dari atau ke Sardjito.
Karena berpikir tak ada yang bisa dilakukan disana, akhirnya saya memutar motor butut yang bensinnya nyaris habis itu ke arah kampus. Di tengah perjalanan, melihat beberapa genteng gedung Balairung Grha Sabha Pramana sudah melorot tak karuan. Tapi tak ada tanda-tanda kerusakan yang parah. Syukurlah...
Setibanya di fakultas, beruntung sekali listrik masih menyala. Mungkin energi dari genset sebagai tenaga cadangan. Saya pun segera menyalakan laptop yang memang sengaja saya bawa untuk mencari tahu berita selengkapnya dari internet sekalian men-charge HP untuk berjaga-jaga listrik akan padam dalam waktu yang lama.
Sengaja saya memilih fakultas sebagai tempat pengungsian, karena memang saya pikir tempat inilah yang paling aman ketimbang harus tetap berada di kost yang memiliki potensi tertimpa reruntuhan bila gempa susulan terjadi lagi.
Ketika saya tiba disana sudah ada beberapa teman juga yang sedang berkumpul. Plus satu pemandangan langka. Jarang-jarang ada mahasiswa Ekstensi melaksanakan ujian di luar ruang.
Tak berapa lama setelah saya mengetahui besar kekuatan gempa yang ternyata 5.9 Skala Richter, tiba-tiba... "Gruduuk..gruduuk...!!" serpihan semen dari atap dan bunyi getaran jendela kaca terdengar begitu kerasnya! Spontan saya pun langsung lompat ke halaman diiringi teriakan beberapa teman-teman wanita.
Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Tapi karena itu listrik di fakultas pun langsung padam. Tak tahu lagi harus berbuat apa, saya hanya bisa menunggu, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Pasrah...
10 menit kemudian, muncul beberapa orang yang saya perkirakan warga setempat yang ingin ikut mengungsi disini. Ahh... betapa miris saat melihat wajah dan pakaian lusuh mereka. Ya Alloh... kasihanilah hamba-hambaMu ini ya Alloh...
Sampai tulisan ini selesai saya buat saya masih ada di fakultas sambil terus memantau perkembangan musibah ini dari internet maupun berita-berita langsung di lapangan. Tentunya masih dengan dihantui rasa waswas karena gempa susulan masih terus berlangsung hingga sekarang secara berkala.
Oya, saya juga sangat berterima kasih atas perhatian dan do'a dari rekan-rekan semua sepanjang hari ini baik melalui SMS maupun telepon langsungnya sampai-sampai membuat HP saya overload dan hang 2 kali. Sungguh, tak ada hal lain yang saya harapkan lebih dari do'a dan perhatian Anda semua.
Ya Alloh... ijabahlah do'a mereka, balaslah kepedulian mereka terhadapku dan saudara-saudara mereka dengan kepedulian-Mu di Jannah-Mu kelak..