Ini kisah yang terjadi sebelum jaman reformasi, tepatnya sebelum B.I. mereformasi 'senyuman mesra' pak Presiden dengan gambar W.R. Supratman.

----------------------------------------------------------------------------------------
Seorang santri mendatangi rumah seorang Kyai di Kampung yang terkenal amat mumpuni dalam ilmu hadits. Tetapi saat ia memasuki rumah kyai dan duduk di ruang tamu, timbullah banyak pertanyaan dalam pikirnya mengapa banyak gambar tertempel di dinding, mulai dari gambar presiden dan wapresnya, hingga gambar keluarganya.
"Wah, Kyai ini konon ahli hadits, tetapi kok tidak mengamalkan hadits*)..?" pikir santri dalam bathinnya. "Saya harus mempertanyakan masalah ini dengan kritis!"
Melihat sang tamu duduk termenung, kyai bertanya "Nak, apa yang kamu pikirkan?"
"Saya tuh heran pak Kyai, anda konon dikenal sebagai ahli hadits, tetapi mengapa anda masih menempelkan foto-foto itu?" tanya santri sambil menunjuk ke arah dinding.
"Bukankah itu menyalahi apa yang dinyatakan Nabi?" tanya santri lagi.
Alih-alih langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan sang santri, sang Kyai dengan roman muka kaget dan kebingungan, melakukan gerakan seperti mencari-cari sesuatu dari saku baju kokonya, tetapi ia tidak menemukan sesuatu, ia pun mencari-cari sesuatu dari dompetnya, tetapi juga tidak ada. Santri melihat Kyai dengan wajah bertanya-tanya.
Kyai memanggil pelayannya dan meminta agar istri Kyai mengambilkan uang Rp. 50.000,- karena ia teringat harus membayar upah kerja kepada tukang.
Saat mendengar alasan kyai yang sibuk mencari-cari sesuatu, santri berkata, "Oh pak Kyai, kalau begitu, tak usahlah risau, biar ini saya talangi dulu," kata Santri sambil menanggalkan kopiah hitamnya, kemudian mengambil selembar 'senyuman sumringahnya' Soe***** dari lipatan di balik kopiahnya.
Dengan muka ceria sang Kyai, menerima uang Rp. 50.000,- itu dan memandangi gambar yang tertera di dalamnya. Kemudian memandang ke dinding, lalu seolah membandingkan lantas berkata,
"Wah... nak Santri, menjawab pertanyaan anda tentang hadits memasang gambar, saya sih tidak separah anda, saya hanya memasang di dinding dan itupun dzohir, terlihat orang lain. Sementara anda menempatkan gambar Soe***** secara khusus, teramat pribadi, dan bahkan di tempat sangat mulia, yakni di atas kepala anda."
----------------------------------------------------------------------------------------
Hadits yang dimaksud di atas adalah hadits-hadits yang mengharamkan segala bentuk gambar seperti:
"Hadits riwayat Ibnu Umar radhiyaallohu'anhu beliau berkata, Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam pernah bersabda, orang-orang yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Kepada mereka difirmankan, 'Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan!'"
(H.R. Muslim)
- Ternyata kefaqihan seorang ulama tidak selamanya dapat kita nilai hanya dari apa yang kita lihat belaka.
- Jangan pernah menarik kesimpulan sembarangan terhadap orang lain sebelum melakukan klarifikasi, lebih-lebih ia adalah ulama yang memang mumpuni dalam bidangnya.
- Pun begitu, sebagai muslim kita juga dituntut untuk bersikap kritis dan diharamkan untuk taklid buta (membebek), terutama dalam urusan agama.
- Kita tidak bisa menafsirkan suatu dasar hukum hanya secara tekstual saja, namun juga perlu melihat hal-hal lain yang mendasarinya. Penjelasan lebih lanjut mengenai hadits ini bisa dilihat disini:
http://syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=2568
http://syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=4495
http://syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=2145
http://syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=409
http://syariahonline.com/konsultasi/?act=view&id=829
Allohu'alam bish showab...