Dari awal hingga pertengahan bulan ini di beberapa forum dan juga milis yang saya ikuti ada diskusi dengan tema yang sama, masalah penggunaan singkatan Ass, SAW, SWT, dsb...
Yang mereka permasalahan adalah secara eksplisit hal ini dapat menimbulkan kerancuan dan juga pengubahan makna dari sebuah kata/kalimat yang luhur dan agung menjadi sebuah kata yang rendah tata bahasanya, bahkan cenderung penghinaan.
Coba saja perhatikan bagaimana sebuah salam dan juga do'a yang kerap diucapkan oleh seorang muslim dari "Assalamu'alaykum.." yang berarti "Keselamatan bagimu.." disingkat hanya menjadi "Ass." yang -katanya- dapat dipelintir artinya menjadi "keledai/bokong" (dalam bahasa Inggris).
Atau kalimat "Sholallohu 'alaihi wa salam" yang awalnya bermakna "semoga Alloh memberikan shalawat dan salam kepadanya" sebagai do'a dan penghargaan kita kepada baginda Nabi Muhammad menjadi tak memiliki 'ruh' lagi manakala disingkat menjadi "SAW".
Terlepas dari hukum yang mendasarinya, saya pribadi berpendapat jangan terburu-buru terlalu jauh menilai suatu hal hanya dari bungkusnya saja. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu.
Pertama, NIAT.
Sudah jamak sekali kita mendengar hadits yang berbunyi,
إِ نَّماَ اْلأَ عْمَالُ بِا لنِّياَتِ
(Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat).
Saya yakin bahwa rekan-rekan kita, saudara-saudara muslim kita itu tidak ada maksud dan niatan sedikit pun yang terbesit dalam benak mereka untuk mengubah makna hal-hal di atas. Bagaimana mungkin seorang yang telah menjadikan syahadat sebagai pondasi hatinya dan Islam sebagai penopang hidupnya justru menjelek-jelekkan diri dan agamanya sendiri? Amat mustahil. Sehingga sebaik-baik muslim adalah yang mengedepankan husnudzon kepada saudaranya sesama muslim.
Kedua, LAWAN BICARA.
Ada ungkapan "Kenalilah lawan bicaramu, maka engkau akan memimpinnya". Begitu pula Alloh telah memerintahkan Rosul dan juga kita agar berdakwah sesuai dengan bahasa kaum tersebut (Q.S. 014:004).
Artinya, jangan keburu terbawa emosi menafsirkan kata "Ass." menjadi "keledai/bokong" pada SMS yang anda terima. Harus dilihat terlebih dahulu siapa yang sedang anda ajak bicara? Orang Indonesia (melayu) atau orang bule? Barangkali kalau orang bule yang sedang SMS-an dengan anda dan ia belum pernah sama sekali ke Indonesia/tahu bahasa Melayu, bisa saja ia menggunakan kata tersebut sebagai sebuah penghinaan untuk anda.
Namun, adakah dalam tatanan bahasa Indonesia kata "Ass." itu memiliki arti "keledai/bokong"? Sementara orang yang anda SMS itu adalah orang Indonesia, yang umumnya juga menggunakan bahasa Indonesia di dalam SMS-nya. Ya tho?
Jadi, kalau ia orang Indonesia, apalagi seorang muslim tentu dapat saja kita asumsikan bahwa ia sudah mengerti arti dari "Ass.", "SAW", "SWT", dsb.. sehingga saat mereka membaca singkatan tersebut, akan langsung membaca kalimat aslinya dan bukan sekedar kata tersebut apa adanya, yakni "Assalamu'alaykum..." bukan hanya "Ass." (baca:ass) atau "SAW" (baca:sau) saja tapi "Sholallohu 'alaihi wa sallam".
Ketiga, SITUASI DAN KONDISI.
Umumnya, penggunaan singkatan-singkatan itu semata-mata bertujuan untuk mengefisiensikan sesuatu. Sebagai contoh, satu SMS itu hanya dibatasi 159 karakter huruf/angka. Tentunya, secara fitrah manusia itu ingin membuat pengeluaran sekecil mungkin, bukan?
Sehingga, untuk urusan SMS daripada membuang karakter untuk hal-hal yang sesungguhnya dapat dihemat lebih baik digunakan untuk informasi yang lain. Dan, pada dasarnya memang bahasa SMS adalah bahasa "planet" yang penuh dengan singkatan, namanya juga Short Message Service yang biasa saya pelintir menjadi "Seni Menyingkat Surat". 
Dengan alasan itulah, orang biasa menyingkat kata "yang" menjadi "yg", "semua" menjadi "smw", "Orang" menjadi "org", bahkan "tanya" hanya menjadi "tñ".
Salahkah hal ini? Secara tata bahasa memang tidak sesuai dengan kaidah EYD. Namun bukan berarti juga harus dipersalahkan. Ingat, ini hanyalah sebuah SMS dan bukan buku tulis pelajaran Bahasa Indonesia, selain itu lawan bicara kita juga umumnya adalah orang yang kita kenal, entah itu teman sahabat, saudara atau rekan kerja.
Hanya saja memang saat berinteraksi dengan orang yang patut kita hormati seperti guru, bos/partner bisnis, penggunaan bahasa "planet" itu harus kita tempatkan secara proporsional, khawatir tidak mengerti atau menimbulkan kesan tidak mengenakkan. Kecuali jika mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Keempat, KONSISTENSI.
Sebenarnya hal ini tidak memiliki hubungan langsung dengan ketiga hal di atas, namun nampaknya menjadi penting untuk diperhatikan juga.
Jika mereka mempersoalkan penulisan "Ass."/"SAW"/"SWT" pada sebuah SMS, seharusnya juga memperhatikan pada singkatan-singkatan yang lain.
Lucunya, di satu sisi mereka menolak menyingkat ucapan salam "Assalamu'alaykum" tapi masih suka menulis "QS" untuk mengartikan "Qur'an Surat" (cth: QS. An Nisa'). Selain itu juga kerap masih menyingkat gelar sahabat "Radhiyallohu'anhu/anha/anhum" dengan "ra" (cth: Umar bin Khattab ra.) atau gelar Nabi "Alaihissalam" hanya "AS" (cth: Ibrahim AS).
Jadi, jika ingin bersikap, bersikaplah secara total, jangan separuh-separuh, takutnya hanya akan mempermalukan diri sendiri lantaran hanya bermodalkan semangat keislaman tanpa didasari ilmu yang cukup 
Sementara saya pribadi menyarankan jika memang bisa ditulis secara utuh sungguh alangkah baiknya. Bukankah akan terlihat lebih elegan ketika menulis Alloh Subhanahu wa Ta'ala? Efek yang ditimbulkannya pun akan terasa bagi yang membacanya, baik dia itu muslim ataupun non-muslim.
Namun begitu, jika tidak bisa ya tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dipersoalkan disini. It's not a big deal 