Hari ini adalah Sabtu terakhir dari bulan Ramadhan. Hari Kamis depan kaum Muslimin di seluruh dunia bersuka cita menyambut kemenangan setelah 30 hari menahan haus dan lapar serta belajar mengendalikan hawa nafsu. Apakah semuanya akan berhasil lulus ujian Ramadhan pada hari kemenangan nanti yang biasa kita sebut hari raya Idul Fitri?
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaki diri. Kapan pun dan di mana pun, kita bisa terus memperbaiki diri. Apalagi pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan ini yang masih tersisa enam hari lagi, kesempatan kita untuk meraih pahala Alloh yang berlipat ganda masih terbuka lebar.
Pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam biasa melakukan i'tikaf yaitu berdiam diri di masjid. Diam bukan berarti tidak melakukan aktivitas apa-apa. Tapi sebaliknya, intensitas ibadahnya lebih meningkat.
Lalu, apa yang telah kita raih selama Ramadhan berlangsung? Berapa juz dari Alquran yang sudah kita telaah? Berapa surat yang telah kita hafal? Berapa doa yang telah kita amalkan? Atau kita ubah pertanyaannya menjadi, berapa kali kita bolong atau absen tarawih? Berapa banyak kita menghabiskan waktu untuk keliling pasar dan mal?
Semua jawabannya hanya kita masing-masing yang tahu. Dan kita sendirilah yang tahu batas kemampuan dan usaha masing-masing. Kita pun bisa mengira-ngira, apakah kita nanti akan lulus atau tidak?
Masih ada kesempatan bagi kita, keluarga, dan siapa pun untuk meningkatkan kualitas ibadah Ramadhan kali ini. Yang bisa melaksanakan i'tikaf, maka i'tikaflah. Jika belum bisa melakukannya, maka ciptakanlah suasana masjid di rumah kita; shalat berjamaah, membaca Al Qur'an bersama-sama, dan lain sebagainya. Ayah menjadi imam, dan si kakak melantunkan qamat. Di belakangnya tak ketinggalan ibu dan anak perempuannya mengikuti setiap gerakan shalat imam mereka.
Bisakah demikian? Mungkin sulit, tapi patut dicoba. Godaannya memang besar, apalagi pada 10 hari terakhir di mana semua orang lebih sibuk daripada hari-hari sebelumnya. Seorang ayah akan terus lembur, menambah jam kerja untuk menambah pemasukan.
Anak-anak terus merengek minta dibelikan baju baru model terkini agar di hari raya Idul Fitri bisa dikenakan. Dan si ibu sendiri sibuk menyiapkan jamuan-jamuan, dari kue A sampai kue Z, agar hari raya nanti menjadi semarak. Akhirnya, semuanya sibuk dengan agenda masing-masing.
Lalu, siapakah yang akan mendapat pahala berlipat ganda itu dari Alloh? Apakah keluarga Bapak Abdullah dari Sabang ataukah keluarga Bapak Zainuddin dari Merauke yang sukses Ramadhannya? Yang pasti, keluarga siapa pun akan dapat meraih pahala itu dan yang utama adalah meraih ridha Alloh hingga tergolong orang yang takwa jika pada Ramadhan ini benar-benar mampu menjaga dan mengendalikan hawa nafsu. Tapi tidak cukup sampai di situ saja, karena orang yang sukses Ramadhannya akan terlihat dari perilakunya setelah Ramadhan ini berakhir.
Dan jangan lupa, bahwa pada bulan ini pun ada satu kewajiban yang harus ditunaikan, yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah ditunaikan sebagai pensucian diri. Bukan saja orang dewasa, dalam hal ini seorang balita pun dihitung.
Ramadhan tahun ini akan berakhir beberapa hari lagi. Jumat depan adalah hari besar bagi kita umat Islam. Pada hari itu Rosululloh biasa mengucapkan "Taqobballallohu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum". Maka para sahabat menjawabnya dengan ucapan "Taqobbal Yaa Kariim".
Ada sebuah keterangan yang menyatakan, bahwa orang yang benar-benar memahami makna dan hikmah Ramadhan ini akan sangat sedih dan enggan berpisah dengan Ramadhan. Bahkan kalau bisa, ia ingin agar sepanjang tahun adalah Ramadhan. Adakah orang yang demikian pada saat ini? Ataukah kebanyakan malah ingin segera Ramadhan ini berakhir?
Wallohu a'lam bish Showab.(nia/mqp)