<< tulisan sebelumnya
2. MENGAKHIRKAN BERBUKA HINGGA WAKTU SAHUR
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallohu 'anha dan Anas radhiyallohu 'anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam menjadikan makan malam (berbuka)nya pada waktu sahur. Dalam hadits marfu' dari Abu Sa'id radhiyallohu 'anhu, ia berkata:
"Janganlah kalian menyambung (puasa). Jika salah seorang dari kamu ingin menyambung (puasanya) maka hendaknya ia menyambung hingga waktu sahur (saja)."
Mereka bertanya: "Sesungguhnya engkau menyambungnya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya pada malam hari ada yang memberiku makan dan minum."
(HR. Al-Bukhari)
Ini menunjukkan apa yang dibukakan Alloh atas beliau dalam puasanya dan kesendiriannya dengan Robb-nya, oleh sebab munajat dan dzikirnya yang lahir dari kelembutan dan kesucian beliau. Karena itulah sehingga hatinya dipenuhi Al-Ma'ariful Ilahiyah (pengetahuan tentang Tuhan) dan Al-Minnatur Rabbaniyah (anugerah dari Tuhan) sehingga mengenyangkannya dan tak lagi memerlukan makan dan minum.
3. MANDI ANTARA MAGHRIB DAN ISYA'
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallohu 'anha:
"Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam jika bulan Ramadhan (seperti biasa) tidur dan bangun. Dan manakala memasuki sepuluh hari terakhir beliau mengencangkan kainnya dan menjauhkan diri dari (menggauli) isteri-isterinya, serta mandi antara Maghrib dan Isya."
Ibnu Jarir rahimahullah berkata, mereka menyukai mandi pada setiap malam dari malam-malam sepuluh hari terakhir. Di antara mereka ada yang mandi dan menggunakan wewangian pada malam-malam yang paling diharapkan turun Lailatul Qadar.
Karena itu, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan di dalamnya turun Lailatul Qadar untuk membersihkan diri, menggunakan wewangian dan berhias dengan mandi (sebelumnya), dan berpakaian bagus, seperti dianjurkannya hal tersebut pada waktu shalat Jum'at dan hari-hari raya.
Dan tidaklah sempurna berhias secara lahir tanpa dibarengi dengan berhias secara batin. Yakni dengan kembali (kepada Alloh), taubat dan mensucikan diri dari dosa-dosa. Sungguh, berhias secara lahir sama sekali tidak berguna, jika ternyata batinnya rusak.
Alloh tidak melihat kepada rupa dan tubuhmu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu. Karena itu, barangsiapa menghadap kepada Alloh, hendaknya ia berhias secara lahiriah dengan pakaian, sedang batinnya dengan taqwa. Alloh Ta'ala berfirman:
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik."
(Al-A'raaf: 26)
4. I'TIKAF
Dalam Shahihain disebutkan, dari Aisyah radhiallohu 'anha:
"Bahwasanya Nabi shallallohu 'alaihi wasallam senantiasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, sehingga Alloh mewafatkan beliau."
Nabi shallallohu 'alaihi wasallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir yang di dalamnya dicari Lailatul Qadar untuk menghentikan berbagai kesibukannya, mengosongkan pikirannya dan untuk mengasingkan diri demi bermunajat kepada Tuhannya, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya.
Adapun makna dan hakikat i'tikaf adalah:
Memutuskan hubungan dengan segenap makhluk untuk menyambung penghambaan kepada Al-Khaliq. Mengasingkan diri yang disyari'atkan kepada umat ini yaitu dengan i'tikaf di dalam masjid-masjid, khususnya pada bulan Ramadhan, dan lebih khusus lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi shallallohu 'alaihi wasallam.
Orang yang beri'tikaf telah mengikat dirinya untuk taat kepada Alloh, berdzikir dan berdo'a kepada-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkan diri dari pada-Nya. Ia beri'tikaf dengan hatinya kepada Tuhannya, dan dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Ia tidak memiliki keinginan lain kecuali Alloh dan ridha-Nya. Semoga Alloh memberikan taufik dan inayah-Nya kepada kita (Lihat kitab Larhaa'iful Ma'aarif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 196-203).