Pfiuuh...
ga terasa yah, udah masukin sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan kali ini. Gimana, udah merasa puas dengan perjalanan ibadah kamu selama dua puluh hari terakhir ini? Tentu belum dunk yah! Nah, sekarang coba kita tengok sikit yuk apa aja sih yang dikerjain Rosul di malam-malam terakhir ini.
Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalam-amalan yang tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lain, diantaranya:
1. MENGHIDUPKAN MALAM
Ini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya, dan kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar daripadanya. Dalam shahih Muslim dari Aisyah radhiyallohu 'anha berkata:
"Aku tidak pernah mengetahui Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam sholat malam hingga pagi."
Diriwayatkan dalam hadits marfu' dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali :
"Barangsiapa mendapati Ramadhan dalam keadaan sehat dan sebagai seorang muslim, lalu shaum pada siang harinya dan melakukan sholat pada sebagian malamnya, juga menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan, lisan dan tangannya, serta menjaga sholatnya secara berjama'ah dan bersegera berangkat untuk sholat Jum'at, sungguh ia telah puasa sebulan (penuh), menerima pahala yang sempurna, mendapatkan Lailatul Qadar serta beruntung dengan hadiah dari Robb Yang Maha Suci dan Maha Tinggi."
Abu Ja'far berkata: "Hadiah yang tidak serupa dengan hadiah-hadiah para penguasa."
(HR. Ibnu Abid-Dunya)
Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam membangunkan keluarganya untuk sholat pada malam-malam sepuluh hari terakhir. Sedangkan pada malam-malam yang lain tidak. Dalam hadits Abu Dzar radhiyallohu 'anhu disebutkan:
"Bahwasanya Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam melakukan sholat bersama mereka (para sahabat) pada malam 23, 25, dan 27 dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak (sholat) keluarga dan isteri-isterinya pada malam 27 saja."
Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menekankan dalam membangunkan mereka pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadar di dalamnya. At Thabarani meriwayatkan dari Imam Ali karomallohu wajhah:
"Bahwasanya Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan sholat."
Dan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan:
"Bahwasanya Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam Mengetuk (pintu) Fathimah dan Ali ra. Pada suatu malam seraya berkata: 'Tidakkah kalian bangun lalu mendirikan sholat?'"
Beliau juga membangunkan Aisyah radhiyallohu 'anhu pada malam hari, bila telah selesai dari tahajjudnya dan ingin melakukan (sholat) witir. Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih bahwa hendaknya adanya targhib (dorongan) agar salah seorang suami-istri membangunkan yang lain untuk melakukan sholat, serta memercikkan air di wajahnya bila tidak bangun.
Dalam kitab Al-Muwattha' disebutkan dengan sanad shahih, bahwasanya Umar radhiyallohu 'anhu melakukan sholat malam seperti yang dikehendaki Alloh, sehingga apabila sampai pada pertengahan malam, ia membangunkan keluarganya untuk sholat dan mengatakan pada mereka: "Sholat! Sholat!" Kemudian membaca ayat:
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya."
(QS. Thaha:132)
Bahwasanya Nabi shollallohu 'alaihi wassalam mengencangkan kainnya bermakna beliau menjauhkan diri dari menggauli istri-istrinya. Diriwayatkan bahwasanya beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sehingga bulan Ramadhan berlalu. Dalam hadits Anas radhiyallohu 'anhu disebutkan:
"Dan beliau melipat tempat tidurnya dan menjauhi istri-istrinya (tidak menggauli mereka)."
Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam beri'tikaf pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Orang yang beri'tikaf tidak diperkenankan mendekati (menggauli) istrinya berdasarkan dalil dari nash serta ijma'. Dan "mengencangkan kain" ditafsirkan dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
.: Bersambung :.