Hei guys! Udah sepekan nih kita-kita jalanin puasa. Gimana, ga ada yang jebol kan? Insya Alloh...
Well, seperti yang kita semua tau, kalo bulan Ramadhan ini merupakan saat dimana penentuan umat manusia bisa dikategorikan sebagai muttaqin (orang yang bertaqwa) ato ga. Nah, menurut ustadz Muhammad Arifin Ilham, orang yang bisa mencapai derajat taqwa itu manakala dia udah bisa mengimplementasikan hakikat dzikir dalam kehidupan sehari-harinya. Bulan Ramadhan juga momen yg tepat untuk menimbun pahala nih, so memperbanyak dzikir merupakan salah satu keniscayaannya. Yuk kita tengok sedikit makna dzikir menurut beliau. 
Dzikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan. Dzikrullah berarti mengingat dan menyebut Alloh. Adapun perpaduan keduanya barulah makna awal dari "khusyuk".
Dzikir sebenarnya terdiri dari 4 (empat) bagian yang saling terikat, tidak terpisahkan, yaitu : dzikir lisan (ucapan), dzikir qalbu (merasakan kehadiran Alloh), dzikir 'aql (menangkap bahasa Alloh di balik setiap gerak alam), dan dzikir amal (taqwa: patuh dan taat terhadap perintah Alloh dan meninggalkan larangan-Nya). Idealnya, dzikir itu berangkat dari kekuatan hati, ditangkap oleh akal, dan dibuktikan dengan ketaqwaan, amal nyata di dunia ini.
Dzikir adalah perintah Alloh subhanahu wa ta'ala kepada orang-orang beriman (QS. Al-Ahzab : 41-42). Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berdzikir. Kurang iman, kurang dzikir. Tidak beriman, tidak akan berdzikir. Berdzikir berarti taat pada perintah Alloh. Praktiknya bisa jadi dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring (QS. Ali Imron : 191), di Masjid (QS. An Nur : 36), Musholla, rumah, kantor, atau jalanan sekalipun. Bisa dilakukan sendiri-sendiri (QS. Al A'raf : 205) atau berjamaah (dalam majelis).
Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam bahkan menyebut majelis dzikir sebagai taman surga. Beliau bersabda,
"'Apabila kalian melewati taman surga, maka bersimpuhlah.' Para sahabat bertanya, 'Apa itu taman surga?' Beliau shollallohu 'alaihi wassalam menjawab, 'Yaitu majelis dzikir.'"
(HR. Ahmad dan At Tirmidzi)
Dzikir adalah pangkal ketenangan dan kedamaian (QS. Ar Ra’d : 28). Alloh adalah sumber ketenangan dan kedamaian (as-Salam). Maka, untuk mencapai ketenangan dan kedamaian itu jalannya adalah mendatangi sumbernya dan membersamakan diri dengan-Nya. Dzikir itulah jalan pembersamaan (ma'iyyatulloh). Adapun meninggalkan dzikir sama dengan membuka keleluasaan bagi setan untuk menunggangginya (QS. Az Zukhruf : 36), menciptakan kepengapan hidup serta membutakan mata hati (QS. Thaha : 124). Selain sebagai wujud ketaatan, dzikir merupakan identitas utama seorang mukmin (QS. Al Anfal : 02).
Sejatinya, dzikir membentuk pribadi yang bertaqwa. Yaitu amat taat terhadap perintah Alloh dan berjuang maksimal menjauhi larangan Alloh. Orang yang berdzikir sadar betul bahwa ia senantiasa berada di bawah tatapan dan perhatian-Nya.
"'Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robb-mu, serta lebih baik dari menerima emas dan perak?' Para sahabat menjawab, 'Ya.' Lalu Nabi shollallohu 'alaihi wassalam berkata, 'Dzikrullah.'"
(HR. Ahmad dan Ibnu Maajah)
"Jama'ah yang duduk berdzikir menyebut nama Alloh pasti dikelilingi malaikat, rahmat akan tercurah pada mereka, ketentraman diturunkan pda mereka dan Alloh menyebut nama mereka pada sesuatu yang berada di sisi-Nya."
(HR. Muslim)
Allohu'alam bish Showab.